Foto: Bripka Delvi saat mempertunjukan Ular Selendang di Kantin halaman Polres Mentawai.
MENTAWAI. FIGURNEWS.COM— Polisi Resort kepulauan Mentawai juga memiliki Anggota pecinta reptil. Sebut saja Bripka. Delvi yang memiliki hobi memilihara dan mempelajari reptil jenis ular bagi keamanan diri sendiri dan masyarakat. Bripka Devil juga berbagi ilmu pengetahuan tentang reptil terhadap mereka yang membutuhkan.
“Sejak usia 15 tahun pada tahun 1988 saya sudah senang memelihara ular. Apalagi bapak saya orang Sijunjung, Sumpur kudus yang kaya dengan hutannya,” ungkap Bripka Delvi saat bercengkrama dengan Wartawan depan Kantor Polres kepulauan Mentawai. Jumat, (28/02/2020).
Menurutnya, pemeliharaan itu merupakan bentuk cara dia mempelajari sifat-sifat reptil tersebut. Salah satunya sebagai antisipasi dampak gigitan jenis reptil yang membahayakan kondisi manusia.
Sebetulnya ular ini tuli, hal itu dapat dilihat ketika seorang pemain suling. Ular mengikuti arah gerakan suling itu. Sebenarnya bukan suara suling itu yang diikutinya tetapi arah suling itu, tambahnya.
Bagi ular dikatakan Bripka Delvil bahwa manusia itu ancaman. Makanya ular apabila tidak merasa terganggu dan tersakiti tidak mengigit.
“Kalau digit ular, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah isolasi atau membalut bekas gigitan menggunakan kain atau sejenis lain hingga sampai penanganan pihak kesehatan. Namun sebelumnya, usahakan bekas luka gigitan disayat agar bisa dapat keluar. Lalu baru ditaburkan amonia atau empedu kodok,” terangnya.
Diterangkannya, setelah digigit ular usahakan jangan melakukan gerakan agar bisa tidak menjalar ke bagian tubuh lain. Hal itu dapat mengakibatkan korban gigitan ular mengalami gagal pernapasan dan gagal jantung.
Cara membedakan gigitan ular berbisa tinggi dan berbisa rendah dapat dilihat dari jenis bekas gigitan. Apabila gigitannya seperti jarum itu adalah ular berbisa tinggi tetapi jika gigitannya seperti disobek itu berbisa rendah bahkan tidak berbisa, paparnya.
Delvi mengatakan sebenarnya bisa ular dapat dilepas dengan cara, menempelkan taring atas ular kebibir gelas. Secara spontan bisa ular akan menembak sekali hingga 6 kali sampai bisa itu kering lalu taring ular dipotong menggunakan gunting kuku. Pasalnya ular tidak dapat selalu memproduksi bisa hingga 5 hari tergantung jens ularnya.
“Begitu juga dengan kala jengking, apabila bisanya udah kering, produksi bisa akan kembali hingga 1 hari sampai 2 hari kedepan. Racun kelajengking ini dapat digunakan untuk faksi anti body,” ujarnya.
Ia menghimbau kepada Masyarakat agar tetap menjaga kebersihan rumah karena rumah yang tidak bersih menjadi tempat yang disukai ular. Selanjutnya, usahakan memiliki peliharaan kucing agar rumah tidak dihuni tikus. Bila ada tikus kemungkinan saja dapat mengundang ular datang.
“Awal memelihara ular ini karena sayang terhadap binatang. Apalagi ular ini memiliki daya tarik keunikan tersendiri. Caranya, agar tidak tidak takut dan jijik dengan ular biasakan melihat dan membiasakan bermain ular dari kecil,” tutupnya.
Bripka. Delvi merupakan salah satu anggota Blok Piton yang berada di kepulauan Mentawai salah satu perkumpulan Komunitas Pecinta Reptil yang tersebar di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. (ev)
Tags:
Kabupaten Mentawai
