Peran Penyuluh Pertanian bagi Petani di Mentawai


Foto: Sekretaris kelompok tani, Abdul Rohman saat berada di kebun Cabai miliknya di Desa Sipora Jaya. Rabu, (17/02/2021).

MENTAWAI. FN- Keberadaan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Mentawai di 10 Kecamatan memiliki peran penting dalam pembangunan pertanian di Kepulauan Mentawai. 

Hal itu diakui Sekretaris Kelompok Tani di Desa Sipora Jaya, Abdul Rohman (65) bahwa PPL adalah mitra kerja demi perkembangan hasil pertanian di Mentawai. Pasalnya tanpa pendampingan PPL hasil Pertanian tidak maksimal. 

"Misalkan ada tanaman yang busuk dan rusak maupun kendala bagi petani, tentu mengadunya ke PPL," ungkapnya saat ditemui figurnews.com di lokasi perkebunan miliknya di Desa Sipora Jaya, Kecamatan Sipora Utara. Rabu, (17/02/2021).

Ia menjelaskan, peranan PPL dalam menyelesaikan masalah petani di setiap wilayah binaan menjadi suatu hal dianggap penting. "Jadi masalah kita di kebun nanti diberi pengarahan dan dilanjutkan nanti ketingkat lebih atas oleh PPL," tambahnya.

Diakuinya, sebelum ada penyuluh hasil pertanian jauh berbeda. Bahkan dia memberi perumpamaan, bila tidak ada PPL seperti Anak Ayam Kehilangan Induknya. Artinya banyak kegagalan dari pada keberhasilan.

Maka melalui itu lanjutnya, agar hasil pertanian maksimal, PPL membentuk kelompok agar dapat diberikan pembinaan di masing-masing wilayah. Hal itu terbukti dengan adanya kegiatan penyuluhan dan sekolah lapangan. 

"Ternyata jika ditekuni memang benar-benar berhasil hingga 90 persen, jika tidak didatangi penyuluh kita jadi bingung," terangnya. 

Sekretaris Kelompok Tani itu menjelaskan, dengan adanya PPL ini pihaknya sangat terbantu menggapai cita-cita dalam meningkatkan hasil pertanian dalam peningkatan ekonomi bagi keluarga.

Dari hasil perkebunan milik dan kelompoknya itu ia dapat menghasilkan pendapatan Rp2,5 juta perbulan. Adapun sebagian tanaman dikebunnya itu seperti Cabe, Jagung dan Terong. "Kalau untuk kebutuhan sehari-hari sudah rumayan cukup, namun tentu kita selalu berharap ada peningkatan," tutupnya.

Sementara itu Kepala Seksi Tanaman Pangan dan Hortikultural, Jobven Herinolde mengatakan program PPL di Mentawai ini sudah sangat lama, PPL ada sejak tahun 2007. Program PPL bukan untuk pembinaan dan pendampingan saja. Namun paling mendasar adalah merubah pola pemikiran petani. 

"Secara kasat mata Petani di Mentawai ini adalah petani tradisional atau tidak mengenal teknologi, artinya mereka tidak mengetahui informasi terbaru tentang pertanian, untuk meningkatkan kesejahteraan atau kelompok tani itu sendiri," ujarnya.

Pada tahun 2007 itu lahirlah PPL di Mentawai. PPL diberi pelatihan dan pendidikan untuk membenahi petani tersebut. "Kita bukan megurui petani, namun kita menjalin hubungan dengan petani seperti teman," tambah PPL yang mengabdi sejak tahun 2007 itu.

Setiap PPL sebelum terjun kelapangan diberi pembekalan melalui orientasi tentang cara pendampingan dan teknik-teknik bercocok tanam. 

Pada masa itu, karena keterbatasan membuat PPL hanya berada di tingkat kecamatan saja. Namun pada tahun 2009 terjadi penambahan tenaga kontrak atau tenaga harian lepas. Selanjutnya pada tahun 2014 muncul PPL dari PNS untuk jadi koordinator di masing-masing kecamatan. Tentunya peranan PPL sudah mulai terukur.

"Jadi dengan adanya koordintor di masing-masing wilayah, maka sudah ada bentuk laporan di lapangan, penataan kelompok tani dan termasuk penyaluran bantuan yang diserahkan kepada kelompok tani itu," terangnya.

Maka pada tahun 2021 ini lanjutnya, PPL terus bertambah 23 tenaga PPL lagi. Maka ini sebuah gerebakan baru bagi keberhasilan pertanian di Mentawai. Artinya dari 10 kecamatan di Mentawai sudah ada 4 sampai 6 PPL dari PNS dan Tenaga Kontrak. Jadi masing-masin desa punya 1 dan 2 PPL.

Dulunya, kata Jobven Petani di Mentawai belum memiliki Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Kelompok. Namun sekarang sudah memiliki SKT sebanyak 360 kelompok. Dan sudah terdaftar di Kementrian Pertanian sebanyak 266 kelompok.

"Pendampingan teman-teman PPL saat ini sudah tertata di masing-masing jenis tanaman," imbuhnya. 

Saat ini terdapat 5 Balai Penyuluh Pertanian tersebar di 5 Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai yakni, Kecamatan Pagai Selatan, Sikakap, Sipora Utara, Sipora Selatan dan Siberut Selatan. Artinya, ada 5 kecamatan belum memiliki BPP yakni, Kecamatan Pagai utara, Siberut Utara, Siberut, Siberut Barat Daya, Siberut Barat dan Siberut Tengah. (ev)

Lebih baru Lebih lama