Foto: Ritual adat di Pantai Mapaddegat. Sabtu, (22/01/2022).
MENTAWAI. FN- Untuk melindungi kampung dari berbagai macam mala petaka (bala), Kepala Desa Tuapejat menggelar Ritual Adat. Tolak bala melalui ritual tidak asing lagi terdengar di negara Indonesia. Salah satunya di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat.
Orang pintar yang pada umumnya disebut Sikerei di Mentawai itu, didatangi dari Desa Mara, Kecamatan Sipora Selatan, Edison (40). Ia menyebut Ritual adat ini bertujuan untuk melindungi kampung dan pantai Mapaddegat yang terletak di Desa Tuapejat, Kecamatan Sipora Utara dari berbagai macam bentuk bala.
Ritual adat masipalinak masigikgik akek sikataik yang berbahasa Mentawai itu bermakna untuk membersihkan dan mengusir bala di perkampungan tersebut.
Ia mengatakan, kegiatan ritual dimulai pada tadi malam Sabtu, 22 Januari 2022 pukul 22.00 WIB waktu setempat. Ritual dilengkapi dengan pemotongan ayam dan taburan air dengan dedaunan.
Selama ritual berlangsung, aktivitas Masyarakat setempat dihentikan. "Kita saat menggelar ritual meminta masyarakat agar tidak berjalan (beraktifitas), karena kita sedang berkomunikasi dengan raja air," sebutnya kepada Wartawan di Pantai Mapaddegat. Sabtu, (22/01/2022).
Menurut kepercayaan selama ritual berlangsung, beraktivitas dapat membahayakan Masyarakat. "Apabila siraja air masuk, ada orang lewat kita takut nanti orang itu kenak, makanya kita kosongkan area itu," tambah Sikerei yang melaksanakan ritual tersebut.
Selama kegiatan Ritual, Petugas Satpol PP, Masyarakat dan Pemuda setempat menjaga disetiap persimpangan jalur lalu lintas Masyarakat.
Ia menjelaskan, pemotongan ayam di pantai bertujuan agar ada pembatas atau sebagai pagar antara Manusia dan Alam Gaib.
"Sementara masibitbit atau menaburkan air yang berisi dedaunan sebagai bentuk mengusir bala di area sepanjang pantai dan perkampungan," terangnya.
Foto: Kepala Desa Tuapejat bersama Warga Mapaddegat saat melakukan tabur air dengan dedaunan di area perkampungan. Sabtu, (22/01/2022).
Ditempat yang sama, Kepala Desa Tuapeja, Pusubiat T. Oinan mengatakan Ritual Adat diselenggarakan sesui tradisi dari Kebudayaan Mentawai terdahulu.
Hal itu bertujuan agar kemungkinan persoalan di perkampungan dapat terjaga. Sehingga aktifitas pengunjung dapat kembali seperti semula.
Sebelum ritual dilaksanakan, Kepala Desa itu meminta Pengunjung agar tidak melakukan aktifitas mandi-mandi di lokasi pasca korban meninggal beberapa waktu lalu tersebut.
Kegiatan ritual adat itu berlangsung pada pukul 21.00 hingga 01.45 WIB. Namun ritual yang Sakral sendiri berlangsung pada pukul 21.00 sampai 22.00 WIB atau 1 jam. (ev)