Midang Bebuke Morge Siwe, Tradisi Masyarakat Kayu Agung Salah satu bentuk Adat Turun-temurun Masyarakat Kayu Agung

 


OKI, Figurnews.com- Berlebaran di Kota Kayu Agung, Ogan Komering Ilir ternyata tak melulu soal makanan saja. Tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya yang memukau, kota kecil ini juga memiliki kebudayaan yang kaya dan mempesona.

Sejumlah tradisi turun-temurun turut melekat dalam setiap aktivitas di hari nan fitri. Sanak kerabat dan keluarga, baik yang dekat maupun jauh, berkumpul demi merayakan kebersamaan selepas sebulan penuh berpuasa.


Tak pelak momen spesial seperti ini turut terjamah nilai-nilai kearifan lokal. Nah, salah satu kebiasaan masyarakat Kota Kayu Agung adalah Midang Bebuke. Asal usul kata Midang berasal dari bahasa zaman nenek moyang yang berarti jalan-jalan sore keliling sembilan kelurahan, sedangkan bebuke artinya lebaran.


Tradisi Midang Bebuke identik dengan Lebaran milik masyarakat Kayu Agung

Midang merupakan sebuah tradisi turun temurun yang dilakukan setiap tahunnya pada H+3 dan H+4 Lebaran. Midang merupakan momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat Kayu Agung karena menjadi ajang untuk memperkuat rasa kebersamaan dan memperkenalkan kebudayaan Kayu Agung kepada masyarakat luar.


Kebudayaan Midang terdiri dari keliling sembilan kelurahan atau “morge siwe” yang dilakukan setiap tahunnya. Adat kebudayaan ini berlangsung dengan seluruh warga perwakilan dari sembilan marga yang berkeliling menunjukkan baju khas daerah Kayu Agung yang memiliki arti dan filosofi yang sangat dalam dan panjang dalam sejarahnya.

Sebagai ungkapan syukur dan rasa kebersamaan seluruh masyarakat Kayu Agung

Adat kebudayaan ini dilakukan sebagai ungkapan syukur dan rasa kebersamaan seluruh masyarakat Kayu Agung. Midang dianggap sebagai momen yang sangat penting bagi masyarakat Kayu Agung karena mampu memupuk rasa persatuan dan kebersamaan antara warga.

Seluruh warga dari sembilan marga akan berkumpul di sebuah titik di setiap kelurahan dan mengenakan baju khas daerah Kayu Agung yang berwarna merah dan putih. Baju khas ini memiliki filosofi yang sangat dalam dan panjang dalam sejarah Kayu Agung. Warna merah melambangkan semangat dan keberanian, sementara warna putih melambangkan kemurnian dan kejujuran.

Setelah berkumpul di titik-titik kelurahan, seluruh warga perwakilan akan berkeliling di sekitar wilayah mereka. Mereka akan menari dan bernyanyi sambil diiring musik khas dari Kayu Agung yang sering disebut warga “Gidor”.

Ajang memperkenalkan budaya

Tradisi Midang menjadi salah satu bagian dari kebudayaan yang sangat berharga bagi masyarakat Kayu Agung. Selain sebagai momen untuk memperkuat rasa kebersamaan, Midang juga menjadi ajang untuk memperkenalkan kebudayaan Kayu Agung kepada masyarakat luar.

Kebudayaan Midang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Kayu Agung yang patut untuk dilestarikan dan dijaga keberlangsungannya. Melalui kebudayaan Midang, masyarakat Kayu Agung berhasil menjaga tradisi dan kearifan lokal mereka tetap lestari hingga saat ini.

Melalui baju khas daerah Kayu Agung yang dipakai dalam acara Midang, masyarakat Kayu Agung berhasil mengangkat kembali keindahan dan makna yang terkandung di balik setiap motif dan warna yang digunakan.

Semoga kebudayaan Midang dan kebudayaan lainnya di Kayu Agung dapat terus dilestarikan dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kayu Agung serta masyarakat Indonesia secara keseluruhan.(M.Tahan)

Lebih baru Lebih lama